Kamis ke 200

“opung…nanti kita makan ice cream yah, tidak apa-apa kok kata mama…markus sudah tidak pilek lagi”

“atau kita main kerumah aki disubang, bole kan yah mama?”

“boleh”

“tuh boleh opung…markus bolos sekolah juga mama bolehin” markus cengegesan. Dan disambut diam. Hanya mata mamanya yang melotot.

Selebihnya senyap…

markus menatap opung terkasih dengan penuh harap. Mengharap ada nada tawa mengikik atau setidaknya bersuaralah sedikit, menanggapi ocehannya, seperti dulu-dulu.

Tapi anak gempal berumur 10 tahun itu harus puas dengan sunyi dan suasana yang tak mengasikkan.

Ruangan yang dingin ini menjadi makin sepi saja, ac baru dimatikan. Namun dingin itu masih terasa dan menjadi hambar oleh tawa yang tak lagi ada. Ada sebenarnya. Toh markus masih juga menggoda opungnya, mamanya dan papanya. Tapi semua tak sama lagi.

(more…)

ADIK

Kiki sudah besar sekarang, badannya tegap, perutnya tidak buncit seperti waktu dia kecil. Suaranya tidak semerdu saat dia masih anak-anak, sekarang sember dan agak berat. Kiki adalah adikku satu-satunya. Anak bungsu yang suka cari perhatian. Ah, betapa cepatnya kau menjadi dewasa, dik! Aku merasa, baru kemarin dia merengek ingin ikut pergi ke lapangan melihat rumah hantu di pasar malam. Ujung bajuku ditariknya kuat-kuat, dan terus membuntuti kemana pun aku berjalan, seolah takut kalau akan ditinggal.

Rengekan yang berkepanjangan tak henti keluar dari mulutnya, seakan besok mau kiamat. Kalau sudah begitu, hatiku pun luluh, tak tega untuk menolak keinginannya. Setelah keinginannya kupenuhi, Kiki mendadak manis, persis seperti si Iteung, kucing peliharaan Emak di rumah, merengek imut, juga merengut manja. Malam itu Kiki ikut denganku melihat pasar malam yang diadakan enam bulan sekali di kampungku. Suasana sangat meriah, penuh dengan orang berpakaian warna-warni. Para pedagang mejajakan aneka macam dagangan, mulai dari makanan, pakaian, bahkan alat keperluan dapur pun ada. Kiki dengan semangat dan suka cita menuju langsung ke rumah hantu. Sendirian dia berjalan paling depan di dalam lorong rumah hantu yang remang-remang dan pengap. Padahal aroma kemenyan saja sudah membuat bulu romaku berdiri. Tetapi Kiki kecil dengan berani melewatinya tanpa menghirau-kanku lagi. Rasanya memang tak ada yang Kiki takuti. Entah memang pemberani, atau sok pemberani.

(more…)

PERTEMUAN

“Lurus aja, kalau nemu perempatan belok kanan. Sepuluh meteran dah, ntar nemu wartel Sawitri, lurussss….. jalan Kiai Ahmad Dahlan, kan? Ahmad Dahlan berapa?” “Lima,” jawabku singkat.
“Ohh, agak ke ujung deket sekolaan. Tuh,” jelasnya. “Hmmmm…,” aku mulai bingung dengan penjelasannya. “Yo wis, makasih, Pak,” imbuhku, sambil berlalu. “Sama-sama, Neng.” Menurut informasi yang kudapat, kakakku kost di Depok. Empat tahun sudah aku tak berjumpa dengannya. Dulu, lima tahun yang lalu, kita sempat sama-sama tinggal di Bandung. Di kota itu, kakakku mengalah hanya kursus bahasa Inggris satu tahun, agar biayanya bisa kupakai untuk kuliah sampai aku jadi sarjana.

Diantara saudara sekandung, sekolahku paling tinggi. Tetapi, malah sampai saat ini, sepertinya tinggal aku yang belum berpenghasilan tetap. Kuliah saja sudah berat bagiku. Setelah jadi sarjana, ternyata bertambah berat. Aku masih untung, si Jafar, saudara temanku, lebih kasihan lagi. Dia jauh-jauh sekolah ke Amerika, akhirnya setelah setahun menganggur hanya buka warnet. Memang tidak adil.

(more…)

KAKEK PERAK

Aku memanggilnya kakek perak. Karena rambutnya yang penuh uban itu berwarna  keperakan. merata hingga kepalanya tampak seperti memakai helm. Kakek perak baik hati. Ia tidak pernah marah, meskipun aku sering menggodanya. Berapa kali aku menyembunyikan kacamatanya. Malah kemarin aku masih saja menggodanya. Aku sembunyi di atas genteng ketika magrib tiba. Kakek perak berteriak-teriak memanggilku dari teras rumah. Hampir saja ia putus asa mencariku, hingga  akhirnya ketika hendak mengitari kebun, tak sengaja ia menemukan tangga bambu yang tersandar ke dinding. Ia lalu tersenyum lega, dan menyuruhku turun dari atap rumah. Ia tertawa-tawa dan  sama sekali tidak marah. Begitulah kakek perak. Aku sayang sekali padanya.

(more…)

Pulang

Ibu cuma bisa beri ini, Nak
(enam lembar puluhan ribu lusuh kuterima)
Di Jakarta jaga dirimu,
dua orang membencimu
lima orang mencintaimu.
Nak, hidup paling indah bila kau punya kampung.
Ibu dan teman-temanmu selalu menanti.
Pulang,
Pulang, Nak
Kapanpun,
bila kau rasa sepi