SENYUM DARI PERDEBATAN

Seorang budayawan berkata. Sutradara boleh mati tetapi aktor tidak. Kalau aktor mati teater akan ikut mati. Kalau teater mati niscahya masyarakat akan kesepian dan akan segera menjadi gila. Dan kalau masyarakat menjadi gila, teater palsu akan merajalela. Dan akibatnya yang paling parah, semua warga masyarakat akan ramai-ramai main teater. Para ilmuan akan sibuk bermain teater dan lupa akan ilmunya. Akan bermunculan teater ilmu, teater pers, teater agama, teater politik dan sejumlah teater-teater palsu lainnya.

Dan pada suatu malam diminggu lalu. Saya melihat bentuk teater yang cukup menarik.

Yaitu: Teater politik. (more…)

PESTA DEMOKRASI

Ada yang lebih seru dari sebuah melodrama akhir-akhir ini, tapi saya juga sepertinya mulai bosan. Bagiamana tidak? Awal cerita saya cukup mengikuti adegan pertama mulainya puluhan partai memaparkan visi dan misinya. Rapih dan begitu jelas semua,  walau isinya hampir seragam tetapi jujur sempat ada juga yang menarik hati saya.

Tapi tak lama ketika mulai bertarung tak sedikit mereka saling menjatuhkan satu sama lain, saling mengkritik dan saling memaparkan ideologinyalah yang paling sempurna. Saya sempat berpikir,  Oh mungkin pada akhirnya nanti partai-partai yang banyak itu toh akan  mengerucut juga dan berkoalisi dengan paham yang sejenis. Seperti misalnya yang berlandaskan agama Islam akan bersatu dan yang berlandaskan nasionalis juga bersatu dengan ideologinya. Meleburlah menjadi satu. Tapi ternyata saya salah karena benar adanya sebuah  istilah yang mengatakan bahwa yang abadi dipolitik itu hanyalah kepentingan, tak ada yang lain. Dari yang awalnya saling protes,  akhirnya bersatu juga dengan segala kepentingan. Alasan-alasan indah pun direka, ideologi yang dikondisikan. Jadi untuk apa membuat semua menjadi begitu ribet kalau akhirnya berkompromi juga untuk suatu kepentingan yang dinamakan kekuasaan. Ibarat sebuah cerita drama serial kalau kelamaan dan terlalu banyak intrik, lama-lama mengesalkan juga.  Pasca pemilu legislatif  yang begitu meriah  dan panjangnya saja masih menyesakkan dada ini, belum lagi kekisruhan setelahnya. Rasanya pesta demokrasi ini tak ada selesainya. (more…)

PERJALANAN BANGSA

Setiap kejadian dalam kehidupan ini akan menjadi sejarah jugapada akhirnya nanti. Setiap sepak terjang, bahkan setiap ucapan sekalipun akan menjadikan aksi reaksi, sebab akibat sebuah prilaku dan melahirkan sebuah peristiwa kehidupan.

Pada masa ini hati saya menjadi kembung karenanya. Perasaan takut dan cemas muncul lebih besar akhir-akhir ini. dan disaat seperti ini sebetulnya saya rindu suara-suara mereka yang biasanya berteriak lantang menyuarakan nasib rakyat. Dulu sangat nyaring ketika sebelum dan awal reformasi. Tapi kini tokoh-tokoh yang biasanya berteriak itu hampir tak ada lagi. Makin kesini suara mereka makin sayup.Kemana mereka saya tak tau? Apa terlena dengan kemudahan menjadi seorang pejabat sehingga lupa dengan perjuangannya? Atau bisa jadi mereka lelah karena dikecewakan oleh teman-teman seperjuangannya yang oportunis. Entahlah…Yang pasti makin kemari mereka yang katanya cinta bangsa itu lebih banyak diam, menonton. Mungkin semua bingung. Pada jaman sebelum reformasi musuhnya jelas. Adalah mereka penguasa yang diktaktor. Tetapi setelah reformasi ini semua menjadi carut marut.Yang benar dan salah makin kabur. Hingga yang terdengar gaungnya hanya mereka yang sedang berlomba dalam kancah pilpress yang sebentar lagi akan berlangsung. Yah sebentar lagi kita akan memiliki pemimpin baru. (more…)

PAGAR NEGERIKU

Ketika saya membaca berita tentang pertahanan Indonesia yang dianggap bobrok, seketika itu juga saya langsung teringat masalah pagar dirumah saya beberapa waktu lalu.
Belum lama ini rumah saya kemasukan maling, sedih luar biasa. Harta benda terkuras habis dalam sekejap. Setelah ditelusuri penyebabnya, ternyata pagarlah yang jadi muasal. Pagar rumah yang kurang tinggi mampu membuat maling leluasa memantau keadaan didalam rumah. Apalagi penjaga rumah tidak waspada, membiarkan kondisi pintu terbuka lebar seolah mempersilahkan maling bertamu. (more…)

MEREKA YANG MENANTI

Manusia memang cepat lupa. Terkadang kesedihan atau kesakitan terganti dengan kebahagiaan yang sering datang silih berganti. Tetapi ada seorang ibu yang saya kenal selalu terlihat muram dalam tawanya sekalipun, dia bersedih semenjak anaknya menjadi korban kasus penculikan. Ibu yang malang itu suatu hari berbisik padaku
“Salma.. suatu saat saya akan kembali tersenyum bila bangsa ini mampu menegakkan keadilan yang seadil-adilnya.”
Dan ternyata bukan hanya dia seorang, yang telah lelah namun tetap sabar menanti datangnya keadilan. Ada puluhan bahkan ratusan duka yang terampas haknya, kematian juga kehilangan orang-orang tersayang karena kasus pelanggaran HAM yang telah menorehkan sejarah suram perjalanan bangsa ini. (more…)