ADIK

Kiki sudah besar sekarang, badannya tegap, perutnya tidak buncit seperti waktu dia kecil. Suaranya tidak semerdu saat dia masih anak-anak, sekarang sember dan agak berat. Kiki adalah adikku satu-satunya. Anak bungsu yang suka cari perhatian. Ah, betapa cepatnya kau menjadi dewasa, dik! Aku merasa, baru kemarin dia merengek ingin ikut pergi ke lapangan melihat rumah hantu di pasar malam. Ujung bajuku ditariknya kuat-kuat, dan terus membuntuti kemana pun aku berjalan, seolah takut kalau akan ditinggal.

Rengekan yang berkepanjangan tak henti keluar dari mulutnya, seakan besok mau kiamat. Kalau sudah begitu, hatiku pun luluh, tak tega untuk menolak keinginannya. Setelah keinginannya kupenuhi, Kiki mendadak manis, persis seperti si Iteung, kucing peliharaan Emak di rumah, merengek imut, juga merengut manja. Malam itu Kiki ikut denganku melihat pasar malam yang diadakan enam bulan sekali di kampungku. Suasana sangat meriah, penuh dengan orang berpakaian warna-warni. Para pedagang mejajakan aneka macam dagangan, mulai dari makanan, pakaian, bahkan alat keperluan dapur pun ada. Kiki dengan semangat dan suka cita menuju langsung ke rumah hantu. Sendirian dia berjalan paling depan di dalam lorong rumah hantu yang remang-remang dan pengap. Padahal aroma kemenyan saja sudah membuat bulu romaku berdiri. Tetapi Kiki kecil dengan berani melewatinya tanpa menghirau-kanku lagi. Rasanya memang tak ada yang Kiki takuti. Entah memang pemberani, atau sok pemberani.

Yang pasti, dia suka sekali berkoar kalau tak ada apa pun yang dia takuti. Senang aku mendengar celotehannya, lucu. Namun, tanpa dia sadari kesombongannya sering sekali aku manfaatkan. Dulu, bila malam hari Emak meminta tolong untuk mengantarkan sesuatu ke rumah Aki , dan kebetulan aku malas, maka tak segan-segan aku menantang keberanian Kiki. Dengan semangat dia pun menerima tantanganku, berjalan dengan gagah seorang diri, hanya ditemani sarung dekil kesayangannya. Padahal dia harus melewati delapan rumah tetangga yang letaknya sedikit berjauhan, lalu harus melintasi kebun mentimun Pak Toha yang luas dan terkenal angker.

Konon, pernah ditemukan mayat perempuan hamil yang sudah membusuk di sana. Kisah itu seperti legenda di kampung kami. Jadi, kalau malam- malam tercium bau busuk di sekitar kebun, orang yang melewatinya pasti akan lari ketakutan. Walaupun aku belum pernah mengalaminya, tetap saja aku tak mungkin berani melewati kebun Pak Toha di malam hari. Tak heran bila kemudian Kiki membanggakan diri, dia anak hebat, pemberani. Kiki tidak selalu bersikap “angkuh” seperti itu. Apabila tabiat malasnya kambuh, ampun deh, minta tolong apapun tak akan digubrisnya. Memindahkan gelas kotor ke dapur saja dia tak akan mau.

Kalau sudah begitu, kerjanya hanya tiduran dan memeritah seenaknya. Minta diambilkan ini, minta diambilkan itu. Sering juga dia pura-pura tidur di depan tv hingga aku harus menggendong ke kamar tidur. Dia bertingkah begitu hanya karena manja dan ingin diperhatikan oleh seisi rumah. Maklum, anak lelaki satu-satunya, lagaknya seperti anak emas, hingga kadang semena-mena, terutama padaku. Apalagi dia sangat tahu, kalau aku tak mungkin bisa menolak keinginannya. Belum lagi Kiki punya semboyan “kakak adalah ajudan”. Keterlaluan! Di balik sifat manjanya, Kiki sebetulnya penuh perhatian, dengan caranya sendiri. Ketika kami masih duduk di Sekolah Dasar, Kiki yang kelas dua, pulangnya lebih awal daripada aku yang kelas enam. Tapi, Kiki memilih tidak langsung pulang, dia lebih senang menantiku. Biasanya dia akan menunggu di bawah pohon mangga yang rimbun dekat kelasku. Terkadang dia mencoret-coret batang pohon mangga yang besar itu dengan kerikil. Dan ketika bel pulang sekolah berbunyi, Kiki sambil tersenyum menyambutku di depan pintu kelas. Sambil berpegangan tangan kami pulang, berjalan melewati padang rumput dan ilalang yang tingginya sepinggangku..

Sesekali kami berlarian sambil saling mendorong menjatuhkan diri ke dalam ilalang-ilalang yang
hangat. Semua itu adalah cerita lama. Bahkan terlalu lama. Kiki sekarang berbeda dengan Kiki yang
dulu. Berubahkah kau, Ki…? Rona wajahmu sudah berganti warna, sadarkah kamu, dirimu kusam
tak bercahaya. Sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa kamu jadi pendiam sekarang? Mana kicaumu?
Bandelmu? Jahilmu? Mana jenakamu? Kenapa tak kau urus lagi ayam jago atau burung-burung merpati kecintaanmu? Tak kau goda lagi Emak di dapur seperti dulu? Tak kau temani Bapak meronda lagi?
Kenapa, Ki? Kenapa tak jua kau bangun kala mentari bersinar terang? Tak jua kau terjaga kala adzan
subuh berkumandang dari surau yang tak jauh dari rumahmu, rumah kita. Kuperhatikan engkau lebih banyak menerawang, malammu berlari tanpa kau sentuh, pagimu pun hilang tertiup terang, dan terang pun hilang berganti kelam. Pagi ini, kulihat kau bangun lebih pagi dari biasanya. Tetapi seperti kemarin kamu tidak mau sarapan. Padahal Emak sudah menyiapkan nasi goreng dan telur ceplok kesukaanmu.

Mau ke mana, Ki, sepagi ini? Mengapa langkahmu tergesa? Ki…tunggu, untuk apa kita kesini? Aku mau
pulang, kamu kan tahu kalau aku penakut, aku tidak suka di tempat ini. Lho, Ki, kenapa kamu malah duduk tepekur? Ki, kenapa menangis? Kok kamu jadi cengeng? Mana ada jagoan cengeng!
Kenapa Ki? Heii, kenapa adikku? Ya, Tuhan! Itu kan namaku! Ki, siapa yang menulis nama Teteh di situ?
Nina ……Nina Novianti…. Hapus, Ki, itu kan Teteh! Jangan usil, hal-hal seperti ini jangan dijadikan mainan. Pamali! …
NINA NOVIANTI
lahir 16 September 1979
wafat 12 Maret 1995
Ki, sebenarnya apa yang terjadi?
….
Tertegun aku dalam diam di sisimu. Kita begitu dekat, bahkan terlalu dekat. Tetapi aku tak ada daya untuk memanggilmu, tak mampu kusentuh lembut pundakmu. Tak bisa kembali kubelai rambut ikalmu,
Tak sanggup kuhapus lirih airmatamu ….
Ki, maafkan Teteh, Teteh cuma bisa meniupkan pesan di kalbumu….
Pulanglah, Ki…
Tak usah bersedih lagi, Teteh juga akan pulang….
Meski ke rumah yang berbeda ….
Salam buat Emak dan Bapak.

(untuk sahabatku yang telah pergi, selamat jalan, rabu malam, dede mimpi Nina)

pukul 15.31 tgl 16 sept 06

One Response to “ADIK”

  1. Fitria says:

    Hello mbak Happy apa kabar?

    aku merindukan tulisan mbak. beberapa tahun lalu mbak selalu menulis di harian seputar indonesia. sejak itulah aku mulai langganan koran tersebut. tapi kemudian mbak tidak lagi menulis disitu. dan aku pun berhenti langganan. sekarang mbak aktif menulis dimana? jujur aku sangat menyukai tulisan2 mbak.
    aku suka gaya mbak dalam menulis. aku sangat ingin tahu mbak menulis dimana lagi. sebab aku rindu tulisanmu

    sekian dariku,
    salam,
    Fitria

Leave a Reply