Kamis ke 200

“opung…nanti kita makan ice cream yah, tidak apa-apa kok kata mama…markus sudah tidak pilek lagi”

“atau kita main kerumah aki disubang, bole kan yah mama?”

“boleh”

“tuh boleh opung…markus bolos sekolah juga mama bolehin” markus cengegesan. Dan disambut diam. Hanya mata mamanya yang melotot.

Selebihnya senyap…

markus menatap opung terkasih dengan penuh harap. Mengharap ada nada tawa mengikik atau setidaknya bersuaralah sedikit, menanggapi ocehannya, seperti dulu-dulu.

Tapi anak gempal berumur 10 tahun itu harus puas dengan sunyi dan suasana yang tak mengasikkan.

Ruangan yang dingin ini menjadi makin sepi saja, ac baru dimatikan. Namun dingin itu masih terasa dan menjadi hambar oleh tawa yang tak lagi ada. Ada sebenarnya. Toh markus masih juga menggoda opungnya, mamanya dan papanya. Tapi semua tak sama lagi.

Opung yang ceria itu diam kaku sekarang.

Sudah  dua minggu semenjak jatuh dari kamar mandi opung jadi linglung. Kadang ingat kadang tak ingat siapa cucunya, anaknya. Bahkan dia terus menyebut nama orang-orang yang tak satupun putrinya dan siapapun tahu.

“ihh sisimon…apa iya dia masih mau kegubukku, bilang yah perempuan gemuk…aku masih ingat ketika kita sama-sama dikejar babi dihutan… tolong sampaikan, aku ingat betul dia balik kejar babi-babi itu sampai satu bayi babi tertangkap tangan olehnya. Eh gemuk..dengar tidak kau…”

putrinya yang memang gemuk setelah beranak10 thn lalu itu kesal sedikit, memang berat badannya tak juga turun walau anak yang dilahirkannya sudah pintar  membaca dan menulis. Tubuh langsing seperti jaman dia gadis seolah tinggal kenangan

“ aku bukan sigemuk, ini Linda papi, anak papi..anak papi yang rajin aerobic tapi belum juga kurus”

“tak ada anakku yang gemuk seperti babi” katanya menerawang

“tapi masih cantikkan papi, ingat tidak dulu..papi bilang Linda mirip mami muda, wanita mengesankan…” agam, suaminya Linda membela sambil mencubit perut istrinya.

“iya kan papi….yang penting sehat”

“yang penting tidak gila”

“tak ada yang gila papi”

“ada”

“siapa papi? Nanti biar disembuhkan, palingan markus..cucu papi satu-satunya yang gila makan…yah markus, markus nanti lagi harus baik-baik sama opung, bagi makanannya ya jangan dilahap sendiri…jangan gila makan’

“kasih makanan untuk babi-babi disini”

“ disini tak ada babi papi”

“ada!!”

Linda, agam dan markus menjadi diam. Lelaki sepuh itu menjadi galak. Matanya menjadi merah, dan dia menangis. Sesegukan seperti anak kecil

“kamu …jahat” serunya

“maaf papi yah…nanti linda sampaikan kesimon yah, tapi babinya sekarang sudah pulang”

‘mama…opung gila” bisik markus
“hush” Linda mencubit lengan markus. Sambil Meringis bocah kecil itu menutup mulutnya, tak berani lagi mengoceh, dia sadar situasi sedang tidak nyaman.

Kemudian lindapun tak banyak bicara, hanya mengelus tangan keriput ayahnya dengan penuh kasih sayang. Diselimuti tubuh nya dengan perlahan. Puji tuhan, papi sudah mau mulai makan semenjak pulang kerumah. Seminggu lalu dirumah sakit dia marah-marah saja kerjanya…dia ingin pulang terus. Syukurnya memang dia diperbolehkan dirawat dirumah. Asal terus diajak bicara dan diperhatikan betul. Katanya itu akan membantu papi  tercinta  memory otaknya akan membaik. Yah, memang tubuhnya terlihat sehat walau menjadi lebih kurus. Hanya saja papi sekarang senangnya hanya berbaring dan bicara ngelantur.

“hari apa ini?”

“kamis papi”

“kamis…baju hitammu? Payungmu?’

“tidak berangkat papi..papi harus istirahat..kita semua temani”

tapi papi tak menghiraukan dia malah berpidato

“bapak ibu yang terhormat, presiden bangsaku nyang tersayang..kami hanya rindu, aku rindu tulangku, pamanku yang dibawa pergi, aku ingin bertemu dia”

“ingat?”

‘opung….markus ingat, bapak ibu yang terhormat, presiden ..pemimpin bangsa yang tersayang, kami hanya rindu, aku rindu pada tulangku, dia pamanku yang dibawa pergi, aku ingin bertemu”

markus berteriak lantang sambil mengepalkan tinju, tangan kanannya.

“kedua tangan kepalkan, jangan hanya satu”

“baik opung”

“aparicion con vida! lepaskan mereka hidup-hidup!”

‘aparicion con vida! lepaskan mereka hidup-hidup!”

“bagus..bagus…”

“seruan itu ada diluar sana, aku dengar, sampai kini, didepan istana presiden argentina casa rosadi ..dijantung kota argentina, mereka  para ibu yang kehilangan suami dan anaknya, setiap kamis selama 30 tahun masih juga mengulang hal yang sama,  berjalan berputar diplaza demaya untuk meneriakkan hal yang sama… jadi untuk apa kita menyerah sedangkan mereka para ibu yang kehilangan suaminya, anaknya 30 tahun lalu..ya 30 tahun lalu ketika junta milter bengis yang menguasi negerinya telah merampas apa yang mereka cintai!  mereka semua ..kerabat-kerabatnya masih juga tak lelah   berteriak, menuntut agar para korban yang hilang itu dikembalikan dalam keadaan hidup-hidup..!!! ya, sama seperti mereka  kita pun semua berdiri  didepan istana negara republik indonesia, meneriakkan yang sama…kembalikan mereka..bawa badannya.. bawalah jasadnya..atau satu monumen untuk kami, biar kami tau..mereka tak mati sia-sia!!!”

“uhuk uhuk..”

‘opung minum…” markus memberikan air putih untuk oupngnya yang terlalu semangat berpidato

‘teruskan…”

markuspun mengulang kata-lata opungnya dengan fasih dan mengepalkan dua tangannya, Seirama sehingga menjadi sebuah teaterikal. Wajahnya lurus menatap kedepan

“ jangan turunkan kepalan tanganmu!”

Linda hanya diam memandang, airmatanya tak selalu mampu membeku…Linda sadar betul, papinya ingat..yah hanya ini mungkin yang dia ingat betul, hari kamis..saatnya berdiri didepan istana presiden republik Indonesia tercinta ini, sekarang, satu jam lagi harusnya mereka sudah berada didepan sana, payung hitam, baju hitam, sudah Linda siapkan dari jauh hari untuk seisi rumah ini. Linda pun rela, anak semata wayangnya harus terlibat bahkan selagi dia masih didalam kandungannya. Tapi ketika dia harus betul-betul berorasi, Awalnya Linda protes..

“ Linda, kita tidak didengar, biarkan simarkus yang orasi! Biar yang buta itu melihat yang gagu itu bersuara..apa mereka tega melihat anak sekecil ini berteriak meminta keadilan! Biarkan…gagah, cucuku didepan istana presiden akan berteriak lantang menuntut keadilan”

“tapi dia masih kecil papi” suami Linda protes

“siapa tulangnya pun dia tak kenal” agam, suami Linda protes

“karenanya dia kan menjadi kenal, kelak dewasa..dia akan merubah bangsa”

Linda tak kuasa menolak, rasanya malah tidak adil menjadikan anaknya alat untuk perjuangan mereka ..tapi melihat markusnya senang dan melakukannya tanpa beban, kekhawatirannyapun perlahan lenyap.

“heh!’

“iya papi”

‘ini kamis ke-200 tahun ke13…23 hilang”

“ya, tapi papi tapi tak bisa ikut, terlalu lelah kalau harus bepergian dan kena angin sore”

“ kita juga tak bisa pergi, kita jaga papi disini”

“harus, kalian harus pergi!”
“tak bisa, papi masih harus banyak istirahat”

“linda…”

ah ingat juga dia padaku, Linda girang bukan kepalang

“ya papi ini linda’

‘markus’

“ya opung”

‘agam”

“ya papi”

setelah semua diabsen. Papi terlihat lega, dia tersenyum..dan minta jendela nya ditutup..gordennya juga, ac minta dinyalakan lagi. Dia minta juga minum tehh manis kesukaannya segelas dengan gula yang tidak terlalu banyak. Kursi yang biasa dipakai duduk ketika menemani papi minta dikeluarkan dari kamar, kamarpun menjadi lenggang, hanya kasur dan lemari pakaian kecil, dipojok kamar dekat pintu keluar. Setelah  semua permintaannya dituruti  papi juga menyuruh semua berdiri mengelilingi tempatnya berbaring

‘ …sekarang aku mau tidur”  papi menghela nafas

“ya papi tidur yah” markus, Linda dan agam bergantian mencium keningnya.

“semalam ary datang,  dia ingin pulang katanya”

“kasian anak bungsuku….”

“markus, Linda, agam..jangan luntur semangat kalian. sekarang pergilah semua, tolong bawa adikmu pulang.. sudah saatnya dia pulang, aku mau istirahat”

tanpa sempat dibantah papipun menutup mata hingga rendanya menyentuh kelopak matanya. Dia tertidur, tak mendengkur bahkan tak minta ditemani oleh siapapun.

 

Jakarta 28.3.2011

 

2 Responses to “Kamis ke 200”

  1. lelaki pengembara says:

    nice,,cerita pendeknya bagus, cara pemaparannya luar biasa hebat. memang sudah cocok jadi penulis. 🙂

  2. admin says:

    hi terimakasih:)

Leave a Reply