PERTEMUAN

“Lurus aja, kalau nemu perempatan belok kanan. Sepuluh meteran dah, ntar nemu wartel Sawitri, lurussss….. jalan Kiai Ahmad Dahlan, kan? Ahmad Dahlan berapa?” “Lima,” jawabku singkat.
“Ohh, agak ke ujung deket sekolaan. Tuh,” jelasnya. “Hmmmm…,” aku mulai bingung dengan penjelasannya. “Yo wis, makasih, Pak,” imbuhku, sambil berlalu. “Sama-sama, Neng.” Menurut informasi yang kudapat, kakakku kost di Depok. Empat tahun sudah aku tak berjumpa dengannya. Dulu, lima tahun yang lalu, kita sempat sama-sama tinggal di Bandung. Di kota itu, kakakku mengalah hanya kursus bahasa Inggris satu tahun, agar biayanya bisa kupakai untuk kuliah sampai aku jadi sarjana.

Diantara saudara sekandung, sekolahku paling tinggi. Tetapi, malah sampai saat ini, sepertinya tinggal aku yang belum berpenghasilan tetap. Kuliah saja sudah berat bagiku. Setelah jadi sarjana, ternyata bertambah berat. Aku masih untung, si Jafar, saudara temanku, lebih kasihan lagi. Dia jauh-jauh sekolah ke Amerika, akhirnya setelah setahun menganggur hanya buka warnet. Memang tidak adil.

Habis mau apalagi, lahan pekerjaan sangat sulit sekarang. Tapi sampai saat ini aku masih yakin, dengan bermodal rajin dan sabar, tidak ada yang sia-sia. Buktinya aku masih bisa bertahan hidup tanpa ditopang siapa pun. Hmm, tak terasa setahun kulewati hidup jadi penganguran banyak acara. Hampir aku putus asa, tapi lagi-lagi aku beruntung punya banyak teman yang membu-tuhkan tenagaku. Kadang aku jaga warnet, ya itu warnetnya si Jafar. Kadang bantu-bantu jaga café, juga punya Jafar. Biar cuma serabutan, rejeki tetap ada. Ah, coba kalau aku bisa jadi SPG, mungkin aku punya pemasukan lumayan. Tapi ternyata jadi SPG juga tidak mudah. Walau aku bernama Cantik, namun pada kenyataannya aku jauh dari kriteria perempuan cantik. Kulitku legam, gemuk, juga tidak luwes. Beban bagiku, tetapi hal itu jadi lelucon untuk teman-temanku. Aku masih mengikuti petunjuk tukang ojek untuk terus berjalan kaki sampai di depan wartel Sawitri. Aku berhenti sejenak. Menarik nafas melepaskan beban di hati, karena sebenarnya aku lebih nyaman mengunjungi kuburan, ketimbang datang ke tempat kakakku. Akhirnya aku sampai di wartel Sawitri, duduk aku mengaso di teras wartel. Seorang perempuan yang tampangnya seperti belum mandi, ke luar dari wartel. Lima lelaki, dua di antaranya berambut gondrong, mungkin mereka mahasiswa, sedang duduk-duduk di teras wartel. Mereka bercanda lepas diselingi tawa. Tak ada beban! Bebas! Ahhh…kalian, nikmati, resapi masa-masa indah saat kuliah, masa penuh harapan dan impian di masa depan. Setelah itu, selamat dating di dunia yang sesungguhnya. Dunia yang tidak pernah bisa kau prediksi. Sekarang tertawalah lagi, lagi…lebih lepas. Biar kuhayati tawa kalian untuk warnai hatiku yang sedang pasi, mengingat siapa yang akan aku temui nanti.

***
Aku harus bertemu kakakku, kakak yang istimewa, teramat istimewa. Kalau bukan karena terpaksa, tak mungkin aku mau ke sini. Amarahku padanya masih kusimpan, menye-dihkan. Sayangnya, apa yang kusimpan ini tak bisa kubagi pada siapa pun, tak mungkin bisa, bahkan tidak pada keluargaku sendiri. Bukan karena Ibu dan adikku jauh di Lampung. Bukan, bukan karena itu, tetapi memang karena aku tak sanggup menungkapkannya. Aku dan kakakku berselisih umur dua tahun. Dari kecil, bahkan sampai aku masuk kuliah, bagiku dia sosok yang kukagumi. Waktu itu rasanya bangga memiliki panutan, dia penyemangatku. Kakakku pintar, pintar dalam berbagai hal. Pintar bukan hanya dibidang pendidikan, dia juga pintar bergaul dan mengambil hati orang. Aku sangat merasakan perhatiannya. Dulu, ketika kami masih tinggal bersama di Bandung, setiap dia pulang larut malam, tak lupa aku dibawakannnya makanan-makanan enak. Dia membawakan coklat, apel merah, terkadang keju, atau kembang gula yang tak bisa kubeli dengan uang jajan yang minim. Tidak tahu kakakku itu dapat uang darimana, kalau kutanya paling dia menjawab, “kamu nggak perlu tahu aku kerja apa, yang penting kamu bisa makan enak.” Sampai pada suatu sore saat aku menemani teman kuliah ke supermarket membeli pembalut, di ujung lorong paling belakang kulihat kakak sedang mengepel lantai. Dia berseragam pegawai supermarket, terenyuh aku mengenang ucapannya. Kakakku memang penuh kejutan. Ibu, di Lampung, sedih semenjak tak ada kabar dari kakakku selama bertahun-tahun. Setiap Lebaran pun tak ada berita, hanya wesel yang tak pernah absen dikirimnya setiap bulan. Tetapi, sosoknya seperti hilang ditelan bumi. Karena itu Ibu pun berduka. Karena itu pula perintahnya tak bisa kuhindari lagi. Belum pernah kulihat Ibu yang setegar baja menangis tersedu-sedu. Dia berkata, ”kalau kau tak mau cari kakakmu, biar aku saja yang cari ! Tolong, Tik, bawa pulang kakakmu, bawa pulang hu hu hu..” Akhirnya, terpaksa, dengan sangat terpaksa kucari jejak kakakku. Beruntung seorang temen lamanya memberi alamat yang cukup lengkap. Tadi subuh aku berangkat naik bis dari Bandung menuju Depok.

***
Aku beringsut dari lantai tempat aku duduk, bersamaan dengan anggukan pucuk cemara kering, mempersilahkan pergi. Aku melangkah, melanjutkan pencarianku. Langit Depok mencoba memayungiku dari matahari yang mulai bersinar terik, panas. Sepanas hati ini! Sanggupkah aku berdamai dengan keadaan ini, apakah cukup kemarahanku pada Tuhan? Sungguh, aku tak kuasa mengubah semua ini, mustahil! Bangunan megah dua lantai menghentikan langkahku, angka lima menempel di pilar pagar.
Di dinding tembok depan tertulis “Pondok Jelita.” Halamannya penuh dengan mobil yang diparkir rapi, entah mobil penghuni, entah mobil tamu yang berkunjung. “Mas, bisa minta tolong?” Satpam yang sedang makan mie rebus menoleh ramah padaku. ”Saya mau ketemu….emm…,” kataku tertahan, “Yul ….” “Oh, Mbak Yuli! Kayaknya belum jalan, langsung aja ke kamar nomor dua puluh satu, antai dasar dekat ruangan tv, Mbak,” dengan ogat Jawa yang medok satpam itu menjelaskan. “Makasih.” Aku berjalan masuk meninggalkan pos satpam. Agak berdebar sambil mengingat pertemuan terakhir dengan kakakku. Pertemuan yang meninggalkan luka, juga amarah. Saat itu kami bertengkar hebat. Pertama kali aku memakinya dengan kata-kata kasar. Sumpah serapah tak henti keluar dari mulutku, sampai akhirnya dia menangis histeris. Dan aku,…… tak peduli! Belum sempat kuketuk, pintu kamar dua puluh satu terbuka perlahan. Perempuan berambut panjang bergelombang ndah terurai, berdiri dihadapanku. Pakaian yang melekat di tubuhnya yang ramping senada dengan make up tipis di wajahnya. Awalnya dia tersenyum manis padaku. Sedetik kemudian, “praaakkk,” kantong makanan yang dia pegang jatuh, isinya berserakan. Dia terkejut, begitu juga denganku. Sementara laki-laki bule berbadan tegap, yang berdiri di belakangnya menatapku bingung. “Can…tik…,” hanya itu kata yang kudengar. Aku terkesima, tak bisa berucap sepatahpun. Ingin kukatakan “Ibu memintamu pulang!” Tapi seketika kata-kata yang sudah kususun dari tadi itu lenyap berhamburan. Gemuruh dalam dadaku mengaburkan penglihatanku. Aku berdoa dalam hati, aku tidak akan menangis, apalagi di depannya. Di depan tubuh wanginya, di hadapan wajah cantiknya. Tak ingin kusambut jemari lentiknya, tak ingin kusentuh kuku indahnya yang berwarna merah muda, mengkilat, cincin berbatu merah mengiasi jari manisnya. Kak, mengapa kau “sangat” berubah, sampai aku tak menemukan kata lain selain “sangat” untuk menggambarkan perubahanmu. Kakakku, memang senang memberi kejutan.

***
Perempuan cantik itu mendekatiku, tangannya yang lembut menghapus airmata yang tak sanggup kutahan lagi. Dia memelukku, erat. Sekejap kurasakan dekapan yang sama, seperti dulu, dekapan seorang kakak yang dahulu sangat melindungiku. Kakak yang ajari aku bermain layang-layang. Kakak yang menghajar kekasihku yang culas. Di antara seduku masih sempat kusampaikan amanat Ibu, perlahan. “Bang Jul, Ibu minta Abang pulang….” (di atas bandal di pagi yang cerah, ditemani coklat sept 03.50)

One Response to “PERTEMUAN”

  1. Mohammad says:

    Yuk, mari kita belajar menlius.. Nulis apa aja, pokoknya nulis. Setelah itu emang harus dibaca2 lagi. Dimana kejanggalan cara penuturan kita, kesalahan huruf atau tanda baca, tulisannya menggelikan atau menghanyutkan, sudah sesuaikah dengan apa yang ingin kita sampaikan *nyamar jadi penulis kondang* yah..pokoknya kita sama2 belajar menlius aja. Kalo kata Pramoedya, menlius itu bekerja untuk keabadian.. saya add ke blogroll ya..Terima kasih. Suatu kehormatan

Leave a Reply