KAKEK PERAK

Aku memanggilnya kakek perak. Karena rambutnya yang penuh uban itu berwarna  keperakan. merata hingga kepalanya tampak seperti memakai helm. Kakek perak baik hati. Ia tidak pernah marah, meskipun aku sering menggodanya. Berapa kali aku menyembunyikan kacamatanya. Malah kemarin aku masih saja menggodanya. Aku sembunyi di atas genteng ketika magrib tiba. Kakek perak berteriak-teriak memanggilku dari teras rumah. Hampir saja ia putus asa mencariku, hingga  akhirnya ketika hendak mengitari kebun, tak sengaja ia menemukan tangga bambu yang tersandar ke dinding. Ia lalu tersenyum lega, dan menyuruhku turun dari atap rumah. Ia tertawa-tawa dan  sama sekali tidak marah. Begitulah kakek perak. Aku sayang sekali padanya.

sering meminta uang pada kakek perak, untuk jajan di warung atau untuk membeli layangan. Jarang sekali ia menolak keinginanku. Selalu dipenuhinya permintaanku, diberikannya sambil tersenyum senang. Ya, seingatku, kakek perak tak pernah marah, dan perhatiannya yang tulus itu tak pernah luput menyirami sanubariku. Suatu hari, ketika aku berkemah di lapangan sekolahku di hari ulang tahun pramuka, tiba-tiba kakek perak datang tergopoh-gopoh turun dari vespanya yang berwarna coklat tua. Kedatangannya di senja yang langitnya bersemu orange itu khusus untuk menemuiku. Mengantarkan sayap ayam goreng yang super gurih buatan nenek, pakai kelapa parut segala. Saking gurihnya, setelah sayap ayam goreng itu habis, aku masih lahap memakan sisa-sisa bumbu ayam itu dengan nasi hangat. Wah, rasanya luar biasa nikmat.

Kakek perak yang langsung mengantarkan makanan itu untukku, karena ia tahu, itu makanan kesukaanku. Maka, tanpa menghiraukan teman-temanku yang ingin ikut juga mencicipi, aku tak peduli, dan tetap lahap hingga  yang tersisa hanya tulang belulangnya.Begitulah, setiap makanan atau mainan kesukaanku, kakek perak pasti berusaha membelikan dan menyisihkannya untukku. Bahkan ia tak segan-segan langsung mengantarkannya untukku, meski kami sedang berjauhan.

Tapi, siang ini tidak seperti siang yang biasanya. Aku melihat kakek perak  sedang duduk melamun di bawah pohon jambu kelutuk yang baru saja dipanen dua hari lalu. Pohon itu memang tak begitu rindang, namun cukup teduh untuk sekedar menikmati sepoi angin di antara celah-celah matahari yang mengintip dari dedaunan yang juga tidak begitu rimbun.  Kakek perak duduk sendirian dan ia tidak memakai kacamata seperti biasanya. Ia tampak menerawang sambil memegang sepucuk surat di tangan kirinya.

“Hai, kakek…” sapaku.

Diam-diam aku  ingin minta uang padanya. Aku mau jajan beli chiki rasa coklat kesukaanku, juga tahu isi yang lezatnya minta ampun.

“Kakek perak?” sapaku lagi.

Ia hanya melihatku sekilas, tersenyum, lalu diam. Aku duduk  merapat di sebelahnya sembari memegang-megang  dan mencubit-cubit keriput di tangannya, rasanya  kenyal  seperti jelly. Tapi kali ini kakek perak benar-benar hanya tersenyum, dan tak lama  kemudian ia mengusap air matanya yang menetes, meleleh di pipinya.

“Kakek perak menangis?”

Aku makin merapatkan diri ke tubuhnya. Tapi,  lagi-lagi kakek perak tidak menjawab. Ia hanya mengeluarkan isi surat dan beberapa lembar foto dari dalam amplop surat itu.

“Tadi pagi seseorang yang mengantarkan ini untuk kakek. Ia sahabat kakek semasa muda dulu.”

“Tapi, kenapa kakek menangis?” tanyaku, bingung.

“Karena foto ini kenang-kenangan hidup kakek di masa lalu”

“Cucuku, coba lihat orang ini, ia teman seperjuangan kakek, pak Sobari namanya. Seorang penulis handal, seniman sejati yang menulis dengan jujur dan tekun untuk bangsa ini. Ini fotonya sewaktu berkunjung ke rumah bersama anak dan istrinya.”

“Foto ini diambil di teras rumah kakek dan nenek, juga bapakmu dulu. Lihat, di kanan-kiri ada pohon-pohon yang tinggi. Semasa kecil dulu, ayahmu suka memanjat pohon, dan hampir setiap sore ia naik ke atap rumah, duduk di atas genteng, persis seperti kamu sekarang.”

“Rumahnya besar sekali ya kek?”

“Iya, besar, halamannya luas.”
“Ajak aku ke rumah itu, kek”

“Tidak bisa, cucuku.”

“Kenapa tidak bisa, kek?”

Tidak biasanya kakek menolak permintaanku.

“Tidak bisa nduk!”

“Kenapa?”

“Rumah itu sudah diambil orang.”

“Kenapa diambil?”

Kakek perak diam, tak lama kemudian ia meneruskan kembali pembicaraannya tanpa melihatku,

“Rumah itu sebenarnya dirampas.”

“Dan bukan rumah itu saja, tapi semuanya, bahkan hak utnuk menjalani hidup..padahal apalah arti kemerdekaan bila tak punya kebebabasan sama sekali. Semasa kecil bapakmu hidupnya tak menentu. Menumpang sana-sini bersama nenekmu. Sementara kakek harus pergi jauh. Mereka, orang-orang berseragam itu membawa kakek ke suatu tempat.”

Diamankan, begitu mereka bilang. Kakek tidak tahu maksudnya, yang pasti dipisahkan dari kehidupan. Delapan tahun kakek dalam keterasingan, tanpa pengadilan.”

“Orang-orang yang dilumpuhkan oleh zamannya, aku salah satu dari orang-orang itu.”

“Dulu, kakek mengabdi pada negeri ini dengan berkesenian, dan tak peduli soal ideologi politik yang dianut oleh lembaga kesenian tempat kakek bernaung. Ternyata harus berakhir dengan pengasingan tanpa peradilan. Semua yang kakek miliki dirampas. Kakek dianggap seniman perusak moral bangsa, padahal seluruh jiwa-raga ini kakek curah untuk tanah Indonesia…”

“Kakek masih ingat pertamakali dwiwarna berkibar di halaman rumah. Waktu itu jantung berdebar-debar.”

“Teriak merdeka Bung Karno menderu, serasa masih membakar dadaku.”

“Tapi  kini, harusnya aku tak terharu lagi.”

“Ribuan orang telah melayang jiwanya, tidak pernah dipertanyakan lagi. Apalagi nasibku ini.”

“Semuanya tinggal kenangan.”

Aku diam, sebab aku tidak mengerti maksud kakek sama sekali, ia seperti tidak sedang berbicara padaku.

Kupandangi wajahnya,  kuikuti sorot mata tajam, menatap ke depan. Air matanya jatuh lagi di pipinya yang keriput, bening bagai  embun. Itu kali pertama dan kali terakhir aku melihat kakek yang sering menertawakanku itu berlinang air mata.

Seekor burung gereja tiba-tiba hinggap di ranting pohon kenanga, tak jauh dari hadapan kami. Burung itu melirik padaku dan mengangguk tiga kali, paruhnya yang kecil dan imut itu terbuka seolah mengatakan sesuatu, kemudian menutup kembali dan tersenyum tipis padaku. Rasanya, aku tidak sedang bermimpi, tapi aku benar-benar melihat burung gereja itu tersenyum. Ya, betul, memang hanya sebentar, karena tak lama berselang, burung itu mengepakkan sayapnya, pergi, terbang tinggi, hingga tak terlihat lagi.

***

Aku masih terlalu kecil saat itu. Aku belum bisa memahami pertanda. Tapi bukankah begitulah manusia? Meski umur telah bertambah, belum tentu ia bisa mengerti sebuah isyarat. Karena, alam semesta sudah menggariskan maut, jodoh, rejeki sebagai peristiwa kehidupan, bukan sebagai  prahara.

Ah, andai saja  waktu itu  aku mengerti, akan kupeluk ia erat-erat. Lalu kukatakan, “Kakek perak, aku sayang kakek. Aku bangga menjadi cucumu!” Kakek perak yang berhati lapang, yang telah memaafkan masa lalunya, dan telah berdamai dengan hal-hal yang tak terduga di dalam hidupnya ini. Itulah yang kudapat darimu, kakekku tersayang. Jika aku mampu melukis langit, akan aku lukis langit itu dengan namamu. Dan, akan aku tambatkan pengalamanmu menjadi mercusuarku.

Tapi, sayangnya aku masih terlalu kecil untuk paham pembicaraan itu.

Kugengam lagi tangannya, kumainkan keriput-keriput yang menggelambir itu. Ia tersenyum saat kucium tangannya. Aku senang luar biasa, aku tak sabar lagi.

“Kakek perak, aku minta jajan…”

Tepi pantai geger 2009

Leave a Reply