Kartini

KARTINI, KARTINIKU

Sebagai pengarang, aku akan bekerja secara besar-besaran unutk mewujudkan cita-citaku, serta bekerja untuk menaikkan derajat dan peradaban rakyat kami. Kartini via Pramoedya Ananta Toer

Raden ajeng kartini. Rasanya tak pernah cukup waktu untuk menceritakan dan menggambarkan kekagumanku pada sosoknya. Pemikirannya, kecerdasan, kepekaannnya dalam memandang realita hidup. Seorang gadis yang hanya keluaran sekolah rendah saja. Kita bisa bayangankan sistem pendidikan macam apa pada masa itu yang ia terima, tak ada pendidikan sejarah padanya, namun dia bisa mencernainya dengan kepekaan dan kecerdasaannya dengan apa yang dia lihat, dia prihatinkan dalam kukungan dari balik tembok-tembok tinggi dimana tempat dia dipingit dari semenjak berusia 12.5 sampai 4 tahun lamanya..

Tapi dalam segala keterbatasan itu kartini mau bersusah payah untuk belajar sendiri dirumah. Dengan penuh kepedihan dia berusaha menyampaikan pemikirannya,
dan tentu saja pemikiran itu dianggap tidak biasa juga dianggap aneh oleh jamannya. Kartini dikenal sebagai sosok yang penuh dengan gairah keingin tahuan. Pribadi yang berlainan dengan kakak kandung perempuannya yang pendiam,tenang, terkendali.

Lewat goresan tangannyalah kartini menuang rasa kesendiriannya melalui pemikiran, juga observasinya terhadap sosial, politik, sastra, juga sejarah peradaban pada masanya. Dia kenali negerinya dengan baik dan buruknya, kartinipun begitu cerdas menggambarkan pula negeri yang menjajahnya. Fasih dituangkan kedalam bahasa belandanya yang sempurna. Bahkan melalui surat-surat untuk sahabat penanya di Nederland itu mampu menjadikan kartini sebagai pendongkrak dan menghasilkan banyak perubahan, bukan hanya untuk negeri tercintanya, tapi juga menjadi issue dan pembahasan sampai ke Eropa, yang nun jauh disana. Kukutip semboyan yang dipegang teguhnya “maju! Semua harus dilakukan dan dimulai dengan berani! pemberani-pemberani memenangkan tiga perempat dunia”.

Pada masa itu saja kartini sudah berpikiran sangat maju untuk perubahan pada negerinya. Ada lagi kutipan kalimatnya yang begitu berbekas untukku “duh karena itu aku menginginkan, hendaknya dilapangan pendidikan itu pembentukan watak diperhatikan dengan tidak kurang baiknya akan dan terutama sekali pendidikan ketabahan. Dalam pendidikan ini harus dapat dikembangkan dalam diri anak-anak, terus menerus..” betapa pertama kalinya dalam sejarah modern indonesia ,seseorang telah mengetahui fungsi seni bagi pendidikan, fungsi seni itu akan berbuah pada watak seorang anak pada masa yang akan datang. Luarbiasa.

Sungguh sayang jika menilai sosok kartini secara dangkal. Oleh karena perjuangannyalah membuat kita sekarang bisa menjadi pribadi yang merdeka, berkesempatan mengungkapkan perasaan juga memilih jalan hidup yang memang berkesesuain untuk bhatin. Mungkin alangkah sedihnya kartini, bila pada masa ini, yang berarti seabad kemudian dari jamannya. Masih ada wanita yang tetap dengan keterkukungan pemikiran, tidak mau berkarya dan maju untuk hidupnya. Kartini saja yang memiliki keterbatasan ruang tidak pantang menyerah, berarti kitapun bisa menjadi kartini-kartini yang lebih leluasa memperbaiki kehidupan.

Duhai sungguh disayangkan bila kita memaknai hari kartini yang jatuh pada setiap tanggal 22 april ini hanya dengan kemeriahan yang tidak membuahkan hasil untuk kepentingan orang banyak, setidaknya untuk diri sendiri. Bukan hanya sekedar dirayakan oleh kebaya cantik, juga perlombaan menyajikan hidangan masakan, sungguh disayangkan apabila makna seorang kartini hanya sampai disitu saja, atau dikenang hanya sebagai seorang perempuan ningrat, seorang dari kasta brahman, bila dipergunakan sistem kasta hindu. Lalu dia dipingit, menderita dan dipaksa menikah kemudian mati.

(pagi dalam rindu)

Leave a Reply