YANG TERBARING SEBELUM UN

Mungkin seharusnya ini menjadi cerita sedih bahkan basi, dimana kejadian seperti ini kerap terjadi dalam beberapa tahun belakangan ini. Tapi bagi saya ini cerita menggelikan. Begini; sepupu saya tidak mengikuti Ujian Nasional (UN). Bukan karena ia bodoh atau tidak belajar. Soal itu tidak perlu ditanya, karena jadwalnya menjelang UN super padat.

Bayangkan, setelah ia sekolah sampai petang dengan jadwal pelajaran yang diubah oleh pihak sekolah dengan mata pelajaran khusus UN. Meski bila dipikir-pikir seolah kecerdasan kognitif saja yang hendak dikejar, sementara mata pelajaran lain yang diberikan selama tiga tahun menjadi tidak berarti.

Siswa tidak ada pilihan selain mengikutinya dengan tekun. Dan, selepas doa bersama menjelang UN, sepupu saya itu tidak pulang ke rumah, tapi mengikuti bimbingan belajar yang biayanya juga tidak sedikit. Menjelang magrib baru ia pulang, itupun belum bisa langsung istirahat karena malamnya harus belajar lagi. Akhirnya hari yang ditakutkan itu tiba, hari yang terasa begitu menegangkan, bahkan di sekolah tempat ia menimba ilmu, yang seyogyanya menjadi tempat menyenangkan itu seolah-olah berubah menjadi penjara. Bagaimana tidak? Beberapa saat menjelang UN berlangsung, polisi berjaga-jaga dengan ketat, seolah ada ancaman bom di sekolah itu. Sepupu saya stress dan nervous hingga akhirnya ia sakit, dan ikut ujian susulan beberapa waktu kemudian.

Mengapa harus sedemikian berat? Setiap bidang ilmu seharusnya dapat diresapi dengan penuh kesadaran oleh setiap pribadi yang memiliki keunikan masing-masing. Minat setiap pribadi tentu bermacam-macam. Tapi setiap siswa tak punya pilihan, karena UN seolah hendak membuat penyeragaman dengan  tekanan yang begitu besar, bukan hanya bagi murid tapi juga bagi pendidik dan orangtua siswa. Gengsi sekolah diuji. Bahkan kepala daerah pun ikut campur karena merasa kredibilitas jabatannya dipertaruhkan juga.

Silang-sengkarut persoalan UN ini adalah cerminan dari wajah Indonesia yang sangat memprihatinkan. Saya bertanya-tanya, apakah pendidikan sungguh-sungguh telah menjadi komoditi? Para penguasa seolah ingin melepaskan tanggungjawab pada banyak pihak. Dengan membuat standarisasi tinggi, sementara sarana-prasarana yang menjadi hak setiap individu belum sepenuhnya dipenuhi. Meski sudah barang tentu pemerintah memiliki alasan tersendiri  “UN harus diberlakukan karena sedang terjadi ketimpangan lulusan pendidikan antar daerah dan ini dianggap berbahaya juga bisa menjadi disintegrasi” (kompas, jumat 15 mei 2009) tetapi bagi saya penyeragaman yang diseleggarakan dengan UN semestinya diseimbangkan dengan kesejahateraan dan fasilitas sekolah diseluruh pelosok Indonesia, seperti bangunan sekolah yang memadai agar dapat memberikan kenyamanan dalam proses belajar-mengajar, perpustakaan yang lengkap, laboratorium yang baik. Gaji serta tunjangan pendidik memadai. Juga pendidikan gratis yang tetap terjaga kualitasnya. Saya yakin bila itu semua terpenuhi dan merata diseluruh pelosok negeri. Bukan mustahil cita-cita untuk mengahapuskan segala ketimpangan itu akan terwujud.

Kalau hanya mengejar standarisasi tanpa mempertimbangkan faktor penunjangnya,   hasilnya akan sia-sia dan masalah yang dari tahun ketahun inipun seolah tak berujung. Kalau sudah begitu, akhirnya rakyat lagi yang jadi korban, menjadi kelinci percobaan guna mengejar ambisi tanpa melihat realitas. Atau apakah ini cerminan betapa mereka yang membuat kebijakan itu tidak mengenal lebih dekat rakyatnya, sehingga yang mereka tahu adalah bagaimana membuat suatu gebrakan untuk mencari sensasi dan pengumpul simpati massa? Ahhh..tapi pikiran pesimis itu harus saya buang cepat-cepat. Walau saya mewakili generasi yang sering kebingungan dengan sepak terjang kaum politisi toh biar bagaimanapun saya tidak boleh tutup mata dan pura-pura tidak peduli, semangat perubahan itu harus tetap bergelora, yah yah …semoga pasca pemilu nanti masalah kekisruhan tiap tahun ini akan secepatnya berakhir tanpa drama berkepanjangan lagi.

*Dimuat dalam rubric Opini harian Kompas pada 23 Mei 2009

One Response to “YANG TERBARING SEBELUM UN”

  1. iyan says:

    Sip sepakat mbak..trus diperjuangkan…reformasi pendidikan. Sekolah mestinya menjadi tempat yang menyenangkan bkn tempat yang menyakitkan. Kenapa hrs dibuat standar@sgala yah klau hanya kulit luarnya aja…tp isinya kosong, mlompong…

Leave a Reply